Chrysostoma Cleo

YESU UFAM TOBIE

Dampak Defisiensi Iodium pada ibu hamil

Evawany Yunita Aritonang

Email : evawany_yunita@yahoo.com

I. Pendahuluan

Salah satu indikator derajat kesehatan masyarakat adalah Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Di Indonesia AKI dan AKB tinggi yaitu pada tahun 1998 450 per seratus ribu kelahiran hidup, dan Angka Kematian Bayi tahun 1999 adalah 44 per seribu kelahiran hidup (Departemen Kesehatan RI, 2000).

Berbagai program kesehatan dilakukan untuk menurunkan AKI dan AKB. Salah satu program adalah perbaikan gizi pada ibu hamil sehingga akan melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas.

Masalah gizi kurang yang belum dapat ditanggulangi dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap I (PJPT I) hingga kini adalah masalah Anemia Gizi Besi dan Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (Depkes RI, 2000)

GAKI merupakan salah satu masalah yang serius di Indonesia dan diketahui mempunyai kaitan erat dengan gangguan perkembangan mental dan kecerdasan. Pada saat ini Indonesia diperkirakan sekitar 42 juta penduduk tinggal didaerah yang lingkungannya miskin iodium, dari jumlah ini 10 juta penderita gondok, 750.000 – 900.000 menderita kretin endemic dan 3,5 juta menderita GAKI lainnya. Pada tahun 1998 diperkirakan 8,2 juta penduduk tinggal didaerah endemic sedang dan 8,8 juta tinggal didaerah endemic berat (Depkes RI, 1999).

Pengaruh negatif GAKI terhadap kelangsungan hidup manusia dapat terjadi sejak masih dalam kandungan, setelah lahir sampai dewasa. GAKI yang terjadi pada ibu hamil mempunyai resiko terjadinya abortus, lahir mati, cacat bawaan. Yang sangat menghawatirkan adalah akibat negatif pada susunan saraf pusat, karena berpengaruh terhadap kecerdasan dan perkembangan sosial masyarakat dikemudian hari. Sedangkan gangguan yang terjadi setelah lahir pada umumnya merupakan lanjutan dari gangguan pada waktu dalam kandungan.

Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995 menunjukkan bahwa satu dari tiga ibu hamil beresiko kekurangan iodium. Penduduk yang tinggal didaerah rawan GAKI kehilangan IQ sebesar 13,5 point lebih rendah dibandingkan dengan yang tinggal didaerah cukup iodium. Indonesia diperkirakan telah defisit tingkat kecerdasan sebesar 140 juta IQ point. Keadaan ini tentu amat berpengaruh pada upaya-upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia (BPS- UNICEF, 1995).

II. Defisiensi Iodium.

Intik iodium 100-150 mg / hari sudah memenuhi kecukupan gizi. Kandungan iodium urine sama dengan level intik dan dapat digunakan untuk memperkirakan konsumsi iodium. Defisiensi iodium terjadi dengan intik < 50mg / hari. Orang yang mengkonsumsi <50mg / hari beresiko untuk berkembang menjadi goiter. Goiter hampir selalu disebabkan intik <10mg / hari. Goiter adalah pembesaran atau hypertrophy dari kelenjar thyroid.

Grade goiter ada 3 yaitu :

  1. Pembesaran, kecil dapat dideteksi dengan palpasi
  2. Leher yang tebal
  3. Pembengkakan yang besar yang terlihat dari jarak jauh

Grade ketiga ini menekan trachea dan menghasilkan nafas pendek selama melakukan pekerjaan berat Insiden tertinggi goiter ditemukan pada daerah-daerah berkembang seperti Rep.Cheko, Yugoslavia, India, Paraguay, Peru, Argentina, Pakistan, Afrika, Asia Tenggara dan New Guinea.

Goiter dihilangkan pada tahun 1950 dengan fortifikasi garam. Garam meja difortifikasi dengan 100 mg KI / kg NaCl. Susu dan roti difortifikasi dengan iodium. Iodium dalam susu awalnya berasal dari desinfektan yang digunakan dalam industri susu. Yodida dalam roti (1mg Iodium/kg roti) bermula dari pengoksidasi adonan oleh pabrik roti.

Komplikasi serius dari defesiensi iodium adalah cretinism. Sebaran goiter pada masyarakat yang mengalami adalah ± 2% populasi cretin. Cretin berdampak retardasi mental dan mempunyai karakterinsik penampilan wajah dan lidah besar. Beberapa diantaranya bisu dan tuli, kerdil, diplegia dan quadriplegia juga dapat terjadi. Cretin berasal dari defesiensi iodium maternal, yaitu diet yang berhubungan dengan kegagalan lahir. Kerusakan mental dan fisik pada cretin tidak dapat kembali. Kerusakan ini dapat dicegah dengan memberikan iodium pada ibu yang deficient pada awal kehamilan.

Goiter mudah didiagnosa dengan terjadinya pembengkakan di tenggorokan. Creatinism susah didiagnosa karena muncul dengan berbagai cara yang berbeda. Kerusakan yang timbul menggambarkan pentingnya hormon thyroid pada perkembangan janin.

Defisiensi iodium dan hubungan guiter dan Creatinism diatasi melalui program kesehatan masyarakat meliputi fortifikasi garam dan suntikan minyak iodium. Garam dapat difortifikasi dengan iodida (KI) atau iodat (KIO3). Iodat lebih stabil terhadap kelembaban dan sinar matahari dan digunakan sebagai suplemen pada negara-negara sedang berkembang.

Iodium dalam minyak terikat secara kovalen dengan asam lemak dan dilepaskan dengan katabolisme minyak. Suntikan minyak lebih diterima didaerah-daerah dimana makanan tidak diasinkan seperti di New Guinea. Efikasi minyak dinyatakan pada study iodium terhadap anak sekolah yang defisiensi (Furnee et.al,1995).

Ambang batas iodium dalam urine yang dipertimbangkan sebagai indikasi defisiensi Iodium adalah 0.4mmol iodium/l urine. Dosis single oral trigliserida mengandung 675 mg iodium menghasilkan konsentrasi iodium urine diatas ambang batas.

II.1. Defisiensi Iodium pada Fetus.

Defisiensi iodium pada fetus merupakan hasil defisiensi iodium pada ibu. Kondisi ini dihubungkan dengan peningkatan insiden lahir mati, abortus dan abnormal cougenital, yang semuanya dapat dihindarkan dengan intervensi terpadu. Efek yang sama telah diamati pada ibu hypothyroidism, yang dapat diobati dengan terapi pengganti hormon thyroid. Trial control dengan minyak beryodium telah menunjukkan penurunan signifikan pada kematian fetus dan neonatal pada kelompok yang diobati ; hal ini sesuai dengan bukti pada hewan yang menunjukkan dampak defisiensi iodium pada ketahanan fetus.

II.2. Defisiensi Iodium pada Neonatal

Peningkatan mortality perinatal disebabkan defisiensi iodium telah ditemukan di Zaire dalam percobaan suntikan minyak ber jodium dan suntikan control yang diberi pada pertengahan kehamilan. Pada kelompok yang diperlakukan terdapat materi dalam perinatal dan kematian bayi dengan kenaikan berat lahir. Berat lahir terendah secara umum dihubungkan dengan tingginya anomali congenital dan resiko tertinggi pada anak-anak.

Pentingnya fungsi thyroid pada neonatus berhubungan dengan fakta bahwa pada saat lahir otak bayi hanya 1/3 dari ukuran penuhnya dan bertumbuh secara cepat sampai akhir tahun ke 2. Hormon thyroid yang tergantung pada suplai iodium yang cukup penting untuk perkembangan otak normal.

Bukti dari observasi neonatal di Zaire menemukan bahwa tingkat hypothyroidism kimiawi 10%, akan mengakibatkan hypothyroidism pada bayi dan anak-anak dan jika defisiensi tidak diperbaiki akan mengakibatkan retardasi fisik dan mental.

Observasi ini menunjukkan resiko besar kerusakan mental pada populasi desiensi iodium berat.

II.3. Defisiensi Iodium pada Anak-anak.

Defisiensi iodium pada anak karakteristiknya berhubungan dengan goiter. Tingkatan goiter meningkat sejalan dengan umur yang maksimum pada masa remaja. Prevalensi kurang iodium lebih banyak pada wanita daripada pria. Goiter pada anak sekolah 6- 12 tahun merupakan indicator defisiensi iodium pada masyarakat.

Studi terbaru anak sekolah yang tinggal didaerah defisiensi iodium pada sejumlah negara menunjukkan kerusakan kemampuan belajar dan IQ dibandingkan pada daerah non defisiensi iodium. Studi ini sulit untuk didesain yang disebabkan sulitnya menentukan kelompok kontrol yang tepat.

Banyak penyebab yang mungkin sebagai faktor terjadinya penurunan kemampuan belajar dan IQ yang mengacaukan interpretasi dari perbedaan antara daerah-daerah yang diteliti. Daerah defisiensi iodium sama dengan daerah yang mempunyai sekolah miskin, menderita banyak deprivasi sosial, status sosial ekonomi rendah dan miskin zat gizi lainnya. Semua faktor ini diperkirakan pada negara maju untuk digunakan dinegara berkembang. Akhirnya beberapa studi menunjukkan bahwa defisiensi iodium dapat merusak kemampuan belajar bahkan bila dampak faktor lain seperti deprivasi sosial dan faktor gizi lain, diperkirakan.

II.4. Defisiensi Iodium pada Orang Dewasa

Yodisasi garam, roti atau minyak telah menunjukkan pencegahan efektif terhadap goiter pada orang dewasa. Determinan utama otak dan pituitary T3 adalah serum T4 dan tidak berlawanan dengan hati, ginjal dan otot. T3 otak yang rendah telah ditunjukkan pada tikus yang kekurangan dalam hubungannya dengan penurunan serum T4, dan hal ini dipertimbangkan untuk memperbaiki defisiensi iodium. Penemuan ini menjelaskan fungsi otak pada orang yang mempunyai serum T4 rendah di goiter endemic. Bagaimanapun juga harus ditekankan bahwa antara T4 dan T3 dipengaruhi oleh selenium, suatu komponen enzim yang memfasilitasi konversi tersebut.

III. Goitrogenik

Resiko perkembangan goiter pada defisiensi iodium meningkat dengan konsumsi pangan yang mengandung goitrogenik. Goitrogenik adalah senyawa kimia yang toksik terhadap thyroid atau yang dipecah untuk menghasilkan senyawa kimia berbahaya. Goitrogenik dijumpai pada berbagai makanan seperti ubi kayu, kol dan lobak. Ubi kayu merupakan pangan pokok di Afrika dan daerah-daerah tropis yang mengandung glycosida cyanogenik sebagai sumber sianida.

Goitrogenik dalam kol dan tumbuh-tumbuhan yang berhubungan menghambat thyroperoxidase khususnya aktivitasnya dalam mengkatalisa reaksi berpasangan. Goitrogenik dalam kol disebut goitrin. Senyawa kimia yang sama, propylthiouracil digunakan sebagai obat dalam pengobatan hyperthyroidism.

Intik iodium yang tinggi juga dapat mempunyai efek antithyroid. Intik 2,0 mg iodida per hari dapat merusak sintesis hormon thyroid, menyababkan level plasma T4 dan T3 yang rendah. Kelenjar thyroid membesar, menghasilkan goiter. Problem ini terjadi di Jepang dimana iodium dikonsumsi banyak dalam bentuk rumput laut. Konsumsi rumput laut setiap hari dapat menyumbang 80-200 mg Iodium / hari yang menyebabkan “Goiter Iodium“ pada anak-anak dan orang dewasa.

Cretinism neurological meliputi sindrom defisiensi mental, tuli, autisme. Walaupun terjadi penurunan berat otak pada kretin, tidak dipastikan kerusakan pada struktur otak. Formasi otak sempurna dan gangguan-gangguan terjadi kemudian dalam perkembangan otak yaitu kurang dari 14 minggu. Hal ini menyiratkan bahwa, bahkan pada wanita yang defisiensi iodium, suplementasi iodium sebelum 3 bulan kehamilan dapat mencegah kretinism.

Dampak defisiensi iodium pada pertumbuhan dan perkembangan dinyatakan sebagai gangguan akibat kekurangan iodium. Dampak ini terlihat pada semua tahap pertumbuhan khususnya pada fetus, neonatus dan bayi, yaitu pada periode pertumbuhan cepat. Ketahanan dan perkembangan fetus peka terhadap defisiensi iodium. Perkembangan otak pada fetus dan neonatus dipengaruhi dengan peningkatan proporsi defisiensi iodium berat. Hal ini berasal dari rendahnya thyroxine maternal pada fetus yang berhubungan dengan level Intik Iodium yang kurang dari 25% dibanding normal. Level < 50% dari normal disebut goitre.

Data menunjukan bahwa anak-anak yang goiter mempunyai kemampuan belajar rendah dibanding non goiter. Semua dampak ini secara penuh dapat dicegah bila defisiensi iodium diatasi sebelum kehamilan.

Goiter telah digunakan selama beberapa tahun untuk memaparkan efek defisiensi iodium. Efek klinis dari intik iodium berlebih (20 mg / hari) juga terdapat pada goiter endemic dan hipothyroidism. Thyroid defisiensi iodium pada kelompok.umur tua sensitif terhadap peningkatan intik iodium karena otonomi persisten thyroid. iodium menimbulkan hyperthyroidism telah dipaparkan pada banyak negara dengan latar belakang defisiensi iodium.

Status iodium dapat diukur dengan survei goiter, determinasi dari eksresi iodium urine, dan pengukuran level hormon thyroid dan pituitary thyroid stimulating hormon (TSH).

Defisiensi Iodium menghabiskan simpanan Iodium thyroid dan mengurangi produksi T4. Penurunan T4 dalam darah menimbulkan sekreasi peningkatan TSH yang meningkatan aktivitas thyroid dengan akibat hyperplasia thyroid.

IV. Penilaian status Iodium

Penilaian status iodium pada populasi didaerah defisit iodium penting dalam hubungannya dengan program kesehatan masyarakat dimana suplementasi iodium dapat diberikan. Metode yang dianjurkan untuk penilaian status iodium didasarkan pada :

  1. penilaian goiter rate, meliputi palpasi atau visible goiter.
  2. pengukuran Iodium urine.
  3. penentuan T4 darah atau TSH pada berbagai kelompok umur, khususnya neonatus dan ibu hamil yang mementingkan fungsi thyroid untuk perkembangan otak.

V. Severity Goiter

Pembagian severity telah diadopsi dari WHO, tetapi masih ada perbedaan dalam teknik yang digunakan dengan pengamatan berbada untuk menentukan severity. Secara umum, visibel goiter lebih mudah diverifikasi daripada palpasi. Observasi terbaru di Tanzania menunjukkan bahwa palpasi thyroid overestimasi terhadap ukuran kelenjar dibanding ultrasonografi, khususnya pada anak-anak. Bagaimanapun skala penilaian goiter rate yang luas, tidak esensial karena butuh waktu dan dana, dan sample terbatas cukup untuk menetapkan rate goiter.

VI. Monitoring Neonatus

Pada negara maju, semua bayi ditapis untuk menjamin level hormon thyroidnya cukup. Dalam program tapis ini, darah neonatus diambil dan diteteskan pada kertas filter yang kemudian kering untuk dikirim ke laboratorium daerah. Level darah T4 atau TSH atau keduanya diukur dengan teknik immunoassay. Monitoring hypothyroid neonatal juga telah dimulai pada beberapa daerah kurang Iodium dinegara berkembang. Beberapa penelitian menyatakan pada populasi yang defisien Iodium, level serum T4 terendah pada saat lahir dan rendah pada anak-anak daripada orang dewasa.

VII. Kecukupan Iodium

Tabel 1. Rekomendasi Intik Iodium

Sebaran Umur dan Keadaan

Intik (mg / hari)

0 – 12 bulan

1 – 6 tahun

7 – 12 tahun

12 tahun ( usia remaja )

Hamil

Menyusui

50

90

120

150

20

200

VIII. Upaya Penanggulangan

Banyaknya metoda suplementasi Iodium tergantung pada beratnya GAKI pada populasi, grade iodium urine dan prevalensi goiter dan kretinism.

GAKI ringan:

Prevalensi goiter : 5 – 19,9% (anak sekolah)

Iodium urine : 50 – 99mg/l

Dieliminasi dengan garam berjodium.

GAKI sedang :

Prevalensi goiter : 20 – 29,9% dan beberapa hypothyroidism.

Iodium urine : 20 – 49 mg/l

Dapat dikontrol dengan garam berjodium (biasanya 20 – 40 mg/kg pada tingkat rumahtangga) Disamping itu minyak beriodium diberi secara oral atau suntik yang dikoordinasi melalui puskesmas.

GAKI berat :

Prevalensi goiter : ³ 30%, endemic cretinism

Iodium urine : < 20 mg/l

Penanganannya : minyak beriodium diberikan sampai sistim garam berjodium efektif, jika sistim saraf pusat dicegah dengan sempurna.

Sumber: http://tumoutou.net/702_07134/eva_y_aritonang.htm

20082008-08-30T05:07:56+00:00312008bUTCSat, 30 Aug 2008 05:07:56 +0000 22, 2008 - Posted by | ARTIKEL

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: